“Bani lagi di mana, udah makan dan shalat belum?”

Sumber gambar: Kompasiana.com

Sampai bulan Maret 2016 lalu, gue magang di sebuah perusahaan IT di Plaza Indonesia (PI). Buat ke kantor gue naik kereta dari kampus (Depok) atau Bogor dan turun di stasiun Sudirman, terus lanjut naik kopaja. Begitu juga pulangnya. Gue nyebrang dari PI, naik kopaja, terus lanjut naik kereta. Gue bisa magang sambil kuliah karena gue diperbolehkan buat kerja remote, ke kantor kalau ada meeting atau laporan progres aja.

Tanggal 28 Maret, jam dua belas siang, Gue jalan agak cepet keluar dari PI. Gue baru selesai laporan progres dan jam satu nanti ada kelas yang jatah absennya udah abis alias kalau-­gue­-bolos-­lagi­-gue­-nggak-­bisa-­uas. Di saat naik tangga penyeberangan, gue merasa ada yang panggil gue. Gue menoleh ke kanan, dan di sana ada seorang nenek­-nenek, usianya sekitar 70­-an. Tingginya sekitar sedada gue dan badannya bungkuk dengan pakaiannya yang lusuh.

“Nak, nak”

“Eh iya, Bu. Ada apa, ya?”

“Kamu kerja di sini?”, kata nenek itu sambil nunjuk gedung PI, mungkin dia berkesimpulan begitu karena gue pakai kemeja dan belum lepasin badge.

Gue agak bingung, di PI kan perusahaannya banyak, pikir gue, “Iya, Bu. Kenapa, ya?”

“Kamu kenal Tesma Turmeidiardi, tidak? Dia anak saya”

“Wah, saya nggak kenal, Bu. Anaknya kerja di mana ya, Bu?”

“Dia kerja di Hotel Hyatt jadi tukang masak.”

“Oh gitu. Kebetulan saya nggak kerja di sana Bu jadi saya nggak tahu. Ada nomor hape-nya, Bu? Nanti saya coba telepon.”

“Nenek nggak punya”. Lalu, beliau menggulung lengan kiri pakaiannya dan menunjukannya ke gue. Ada tulisan ‘Tommy’. “Kalau Tommy kamu kenal, nak? Dia temannya, kerja di sini juga”. Rupanya beliau berusaha mengingat nama teman anaknya itu sampai ditulis di lengannya.

“Wah, saya nggak kenal juga, Nek.”, gue pun jadi manggil nenek karena beliau manggil dirinya nenek.

Percakapan di atas terkesan lancar padahal sebenarnya dengan gaya ucapan khas orang tua si Nenek seringkali bilang “Apa?” sambil mendekatkan telinganya ke arah gue dan gue mengulang perkataan gue. Pendengaran si Nenek sepertinya kurang baik.

Sampai detik itu gue tetap mencoba berpikir positif. Tapi gue juga memikirkan berbagai kemungkinan lain, seperti misalnya si Nenek sebenernya kurang sehat pikirannya atau mau menipu. Gue tau mungkin berlebihan, tapi ini Jakarta, bung. Si Nenek terus melanjutkan percakapan.

“Nenek pernah ke sini tujuh tahun yang lalu, itu terakhir kali Nenek ketemu anak Nenek. Nenek tinggal di Lampung dan ke sini mau ketemu dia.”

Awalnya gue ingin menyarankan si Nenek buat langsung tanya ke satpam Hyatt­-nya langsung buat minta dicariin. Tapi gue berpikir, dengan pembawaan nenek yang seperti itu serta informasinya yang sangat terbatas, gue takut beliau malah diusir satpam gara-­gara dikira cuma main-­main. Asumsi ini mungkin dibentuk oleh tontonan televisi yang pernah gue tonton yang menceritakan satpam sebagai tokoh antagonis.

“Yaudah, Nek. Saya antar ke satpamnya ya. Siapa tau bisa bantu.”
Sambil menunjukkan muka senang, si Nenek bilang, “Wah, terima kasih, Nak.”

Gue bersama si Nenek jalan turun jembatan penyeberangan. Si nenek memegang lengan gue dengan kuat dan berjalan dengan pelan. Lengan satunya berpegang ke pinggiran tangga. Gue baru sadar, kakinya agak pincang satu. Kok bisa beliau naik tangga penyeberangan ini dari sisi satunya dengan kondisi kaki kayak gitu, pikir gue.

Sambil berjalan dengan pelan bersama, si Nenek bercerita lagi.

“Mata Nenek buta sebelah, dulu pas ke Jakarta lagi mau berobat. Lalu ketemu anak Nenek”

“Ooh gitu Nek”, gue angguk-­angguk.

“Dia nggak pernah hubungi Nenek lagi sejak itu”, kata si Nenek sambil menunjukkan ekspresi muka sedih.

Gue sempet celingak-­celinguk, barangkali gue sebenernya lagi ada di acara reality show televisi,“Terus Nenek ke Jakarta sama siapa?”

“Sendirian. Nenek ke sini dua bulan yang lalu dan nginap di rumah saudara di Bekasi.”

“Dari Bekasi ke sini naik kendaraan umum Nek?”

“Iya, tadi naik bis”

Bis di sini mungkin kopaja. Kok dia nggak dianter sodaranya aja ke sini, pikir gue.

Gue sampai di pintu depan Grand Hyatt (yang deket bundaran HI, yang ada air mancurnya) dan ketemu satpam di sana. Gue sempet bingung juga gimana jelasinnya.

“Siang, Pak. Perkenalkan nama saya Bani. Saya tadi ketemu Nenek ini di jembatan penyeberangan. Dia lagi cari anaknya namanya Tesma Turmeidiardi, dia tukang masak di hotel Hyatt. Kira­-kira bisa tolong dicarikan nggak ya, Pak?”

“Oh kalau cari pegawai coba tanya satpam yang sebelah sana, mas.”, katanya sambil menunjuk ke satpam gerbang samping PI).

“Oh, oke. Makasih, Pak.”

Gue dan si Nenek lalu jalan lagi ke arah gerbang samping PI. Si Nenek sempet cerita kalau dulu dia pernah masuk ke PI buat pakai toiletnya. Si Nenek juga bercerita beberapa ingatan lain pas dia ke sini tujuh tahun yang lalu. Sampai ke gerbang samping PI, gue bicara lagi sama satpamnya dan menceritakan kembali permasalahannya ke satpam itu. Si Pak Satpam sempat memperhatikan gue dengan agak bingung.

“Masnya pegawai I*M?”

“Iya, Pak. Tadi pas saya mau pulang, di jembatan penyeberangan saya ketemu Nenek ini. Katanya sudah tujuh tahun nggak ketemu anaknya”

“Wah kalau sudah tujuh tahun sih belum tentu masih kerja di sini.”

“Boleh tolong dicarikan dulu nggak Pak ke bagian masaknya. Kasihan Ibu ini.”

Si Satpam ngomong ke HT, “Tolong carikan pegawai namanya Tesma Turmeidiardi di dapur.”

“Sebentar ya lagi coba dicarikan”

“Terima kasih banyak Pak”

Selang beberapa menit, si Pak Satpam mendapat respon kalau orang dengan nama yang dicari nggak ada.

“Di dapur nggak ada, mungkin lagi nggak kerja hari ini. Coba saya cari tau ke pegawai yang lain mungkin ada yang kenal. Ibu, boleh ditulis nama anaknya di sini.”, katanya sambil kasih kertas dan pulpen.

“Iya, namanya Tesma Turmeidiardi”. Dia terus menulis di kertas itu, dengan amat pelan.

Karena melihat si Nenek seperti kesulitan menulis, gue menawarkan bantuan “Sini saya tulisin, Nek”

Gue menuliskan nama anaknya si Nenek di kertas itu.

“Nek, buat informasi tambahan, nama Nenek sama alamat rumah di Lampung nya di mana ya?”

“Nama nenek *sesuatu*. Alamat Nenek di jalan *sesuatu*” (Gue lupa nama sama alamatnya, tapi si Nenek menyebutkan itu dengan tegas dan lancar)

Lalu gue menyerahkan kertas itu ke Pak Satpam dan beliau menyerahkan kertas itu ke temennya yang lanjut masuk ke gedung.

“Ditunggu yah, lagi coba dicari.”

“Terima kasih banyak, Pak.” (baik banget ini satpamnya, pikir gue)

Sambil menunggu, si Nenek bercerita tentang anaknya ke gue dan Satpam. “Waktu kecil dia dipanggil Ozi. Dia senang main di sungai dekat rumah sama teman­-temannya,” cerita si Nenek. Gue ngangguk­ngangguk aja. Beberapa menit mendengar cerita si Nenek, gue yakin banget apa yang dia alamin sekarang nggak main-­main. Ceritanya terlalu nyata buat jadi cerita karangan.

Beberapa menit pun berubah menjadi hampir setengah jam. Gue beberapa kali ngeliat jam, sadar kalau gue masih ada kelas jam satu.

“Mas, kalau masih ada perlu pergi aja nggak apa-­apa. Nanti Nenek ini saya yang bantu.” kata Pak Satpam tiba-tiba.

Parah, ini satpamnya baik amat, “Beneran nggak apa-­apa nih, Pak?”

“Iya nggak apa-­apa”

Sejujurnya nggak tega sih ninggalin si Nenek ini sebelum dapet kabar yang jelas dari keberadaan anaknya. Tapi gue sadar juga gue nggak bisa bolos kuliah yang satu ini. Untung satpamnya pengertian banget.

Gue ngerobek kertas dari binder di tas gue dan tulis nama dan nomor hape gue terus kasih kertas itu ke si Nenek.

“Nek, saya ada perlu di Depok jadi nanti dibantu sama Pak Satpamnya di sini buat cari anak Nenek. Kalau Nenek nanti butuh bantuan hubungi nomor hp saya aja di sini.”

“Oh iya makasih banyak ya, Nak”, sambil tersenyum.

Gue pun bergegas pergi ke jembatan penyeberangan tadi buat naik kopaja ke stasiun Sudirman. Sepanjang perjalanan itu gue kepikiran terus sama nasib si Nenek. Firasat gue sih beliau nggak ketemu sama anaknya di Hyatt, mengingat sudah 7 tahun yang lalu. Tapi gue terus berdoa supaya firasat gue itu salah. Gue sempet googling nama anaknya di internet, berharap dia punya Facebook, tapi gue nggak nemu petunjuk apa pun. Gue nggak pernah dihubungi sama si Nenek itu sampai sekarang, semoga karena beliau sudah bertemu sama anaknya.

Waktu perjalanan menuju Depok, di kereta, gue merenungi apa yang gue alami tadi. Gue takut, kalau gue udah ada di dalam berbagai kesibukan nanti gue nggak ingat atau nggak sempet buat hubungin nyokap gue. Gue takut, karena pas masih ngekos pun entah kenapa gue kadang merasa gue terlalu fokus atau asik sama kegiatan gue di kampus sampai nyokap gue kadang suka telepon buat nanya kabar, bukan gue yang telepon nanya kabar nyokap. Gue takut kalau gue nggak sadar kalau selagi gue sibuk dengan kegiatan sehari-­hari gue, nyokap gue juga semakin tua.

Kita boleh aja mengejar mimpi kita ke mana pun di semesta yang luas ini. Kita boleh aja jadi salah satu dari orang-­orang yang paling berpengaruh di dunia. Tapi, gue harap nggak ada dari kita yang lupa kalau ada orang tua kita di sana yang sekedar ingin tahu apakah kita udah makan malam apa belum, udah shalat apa belum.

Karena gue udah melihat, ada seorang ibu yang, bahkan dengan kondisi kesulitan mendengar, pincang dan buta sebelah, nggak bisa menulis, dan informasi ingatan seadanya, masih rela pergi ke pulau seberang dan memberanikan diri buat menyapa orang nggak dikenal di jalan, cuma buat ketemu anaknya.

Like what you read? Give Bani Syahroni a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.