6 Cara Belajar UX untuk Mahasiswa

Sumber gambar: sad.edu

Menurut gue, bekerja di bidang user experience atau UX itu seru dan menantang. Udah hampir delapan bulan gue kerja di Bukalapak sebagai UX researcher. Gue menikmati pekerjaan ini dan dapat banyak banget pelajaran di dunia nyata. Di beberapa hari pertama gue memang agak bingung dalam berbagai hal, misalnya membuat rencana riset yang baik atau mewawancarai orang yang nggak gue kenal. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, gue mulai terbiasa dan percaya diri dengan pekerjaan gue.

Beberapa kali ada junior gue di kuliah yang bertanya ke gue tentang bagaimana cara mendalami UX. Pertanyaannya beragam, mulai dari yang umum seperti “Apa itu UX?” sampai spesifik seperti “Bagaimana cara membuat user journey?”. Mengingat masih jarang orang yang berminat bekerja di bidang UX, gue seneng banget kalau ada mahasiswa yang antusias buat belajar.

Harus gue akui, belajar UX di perkuliahan perlu usaha lebih. Hal ini karena pengetahuan dan praktek yang ada di UX nggak semuanya diajarin di perkuliahan. Misalnya, di jurusan gue kuliah, ilmu komputer, cuma ada satu mata kuliah yang relevan yaitu Interaksi Manusia-Komputer (IMK). Mata kuliah ini cukup baik sebagai perkenalan UX untuk mahasiswa karena membahas pemahaman-pemahaman umum seperti prinsip-prinsip desain dan metode-metode riset desain. Sayangnya, sepengamatan gue, tiga SKS di satu semester belum cukup buat mempersiapkan diri memulai karir UX di dunia startup.

Oleh karena itu, gue mau share enam cara belajar UX yang bisa dilakukan saat masih kuliah.

1. Baca buku tentang UX

Di internet memang bertebaran artikel tentang UX, tapi gue lebih pilih buku buat belajar karena pembahasannya lebih mendalam. Dari beberapa buku tentang UX yang udah pernah gue baca, gue menyarankan tiga buku di bawah untuk dibaca:

  • The Design of Everyday Things (Penulis: Don Norman). Buku ini dianggap sebagai kitabnya desainer karena memang mengenalkan prinsip-prinsip fundamental dari desain. Isinya sebagian besar teori dan, dibanding dua buku di bawah, menurut gue bahasa Inggrisnya lebih berat.
  • Observing User Experience (Penulis: Elizabeth Goodman, dkk). Ini satu buku seputar riset UX favorit gue karena bahasannya luas dan mendalam, mulai dari buat rencana riset, menjalankan riset, menganalisis, sampai mempresentasikan hasil riset.
  • UX for Lean Startups (Penulis: Laura Klein). Gue merasa buku ini perlu dibaca karena menjelaskan proses desain produk di lingkungan pengembangan agile yang banyak dipakai startup. Setelah baca buku ini, kita jadi tau peran dan aktivitas UX di pengembangan agile.

2. Ikut online course tentang UX

Sama seperti artikel, online course tentang UX juga cukup banyak ditemukan di internet. Beberapa penyedia online course yang punya materi tentang UX misalnya Lynda, Coursera, dan Udemy. Gue pribadi lebih pilih belajar di Lynda karena konten videonya padat dan jelas, dan harga langganannya terjangkau (bukan promosi, yak). Beda sama baca buku, gue nggak terlalu bisa nonton video lama-lama, makanya nggak terlalu suka video online course yang banyak basa-basi.

Dua playlist online course di Lynda tentang UX yang gue rekomendasikan:

  • Foundations of User Experience. Kumpulan online course yang membahas pengetahuan dasar UX seperti arsitektur informasi, prototyping, usability testing, dan lain-lain. Online course di sini bener-bener buat pemula jadi gampang dipahami.
  • UX Design Techniques. Online course di playlist ini menjelaskan langkah demi langkah proses user-centered design, mulai dari analisis data, membuat persona, sampai merencanakan implementasi. Sama seperti playlist sebelumnya, menurut gue kontennya cukup mudah dipahami.

3. Ikut komunitas tentang UX

Komunitas adalah tempat yang seru buat dapetin informasi dan ketemu orang-orang yang juga passionate sama UX. Gue suka dateng ke meetup dan ngobrol-ngobrol sharing tentang gimana tim UX di startup lain bekerja.

Dua komunitas UX yang cukup aktif mengadakan meetup dan informatif di Facebook ada UXID dan CHI UX Indonesia. Selain dua komunitas tersebut, coba cari juga komunitas UX lokal yang ada di kota tempat kuliah, atau cari meetup di website Meetup.

4. Ikut kompetisi tentang UX

Menang atau kalah, ikut kompetisi desain UX adalah pengalaman berharga dan bisa menambah portfolio kita. Sepengetahuan gue, kompetisi nasional mahasiswa yang memang fokus melombakan UX cuma ada di Gemastik yang diadakan Dikti. Walau begitu, nggak ada salahnya menerapkan proses desain UX di kompetisi pengembangan aplikasi biasa, misalnya CompFest atau Imagine Cup. UX yang bagus pastinya jadi nilai tambah buat aplikasi yang dilombakan.

5. Magang di posisi tentang UX

Magang adalah kesempatan yang nggak boleh dilewatkan untuk belajar UX. Kenapa? Karena di sini kita bisa belajar mengaplikasikan pengetahuan UX kita dengan bimbingan supervisor. Selain itu, sama seperti ikut kompetisi, hasil kerja saat magang bisa jadi portfolio pengalaman kita.

Perlu dicatat, di atas gue tulis ‘posisi tentang UX’ karena memang posisi yang punya embel-embel ‘UX’ bisa beragam, misal UX designer, UX researcher, UI/UX designer, atau interaction designer. Bahkan dengan nama posisi yang sama, job description di perusahaan berbeda bisa beda juga. Gue menyarankan buat tanya-tanya lebih banyak saat interview untuk memastikan pekerjaan tersebut sesuai ekspektasi.

Beberapa startup yang pernah buka magang untuk posisi UX: Blibli (tempat gue magang dulu), Go-Jek, Uber, Ruangguru, GDP Venture, Traveloka, Jakarta Smart City, dan Bukalapak.

6. Tulis skripsi tentang UX

Gue berpikir dua kali buat masukkin skripsi di tulisan ini setelah mengingat masa-masa stres gue saat skripsian. Meskipun begitu, pengerjaan skripsi gue memberikan kontribusi besar ke dalam pemahaman gue tentang UX.

Ada tiga alasan kenapa skripsian tentang UX adalah cara yang baik buat belajar UX. Pertama, karena sifat tulisan akademis yang harus selalu punya landasan, kita bisa berlatih berpikir kritis terhadap asumsi yang kita buat. Berpikir kritis adalah kemampuan yang sangat penting dalam membuat keputusan desain. Kedua, kita bisa dibimbing sama dosen yang senantiasa membantu kita kalau stuck. Terakhir, kita mendapatkan tekanan untuk menyelesaikan skripsi dengan baik, karena nggak beres berarti nggak wisuda.

Penutup

UX bukan bidang yang dijadikan pelarian karena mahasiswa ilmu komputer nggak suka ngoding. Belajar UX perlu dedikasi dan sama susahnya dengan belajar programming. Tapi kalau kita memang passion buat merancang produk yang bermanfaat buat manusia, belajar UX bakal jadi pengalaman yang seru dan menarik.