4 Salah Kaprah tentang Riset UX

Sumber: interaction-design.org
Apa yang lebih susah dari menjawab “Apa itu UX?”, menjawab “Apa itu riset UX?”.

Sama seperti desain UX atau data science, riset UX adalah bidang baru yang ikut ngetren seiring dengan berkembangnya tech startup. Nggak heran kalau belum banyak orang yang akrab dengan istilah ini. Bahkan gue baru memahami dunia riset UX yang sebenarnya saat udah kerja jadi UX researcher.

Oleh karena ketidakenalan tersebut, ada beberapa pemahaman umum yang menurut gue kurang tepat. Gue mau mencoba menjelaskan pendapat gue tentang hal tersebut berdasarkan apa yang gue pelajari selama menjadi praktisi.

1. “Cuma ngobrol sama user doang? Gampang ya.”

Di suatu pagi di perusahaan dulu gue bekerja, seorang product manager (PM) bilang ke gue, “Ban, gue udah test prototype ini ke dua engineer, nih. Mereka ngerti. Jadi nggak perlu dites lagi.”

Gue senang dengan ketertarikan dan inisiatif PM dengan riset. Tapi di sisi lain gue sadar kalau gue sedang bekerja dengan orang yang nggak tau kerjaan gue apa. Tantangan gue adalah secara perlahan mengedukasi tim tentang bagaimana riset UX bekerja.

Dari luar, riset UX mungkin kelihatannya cuma ngobrol sama user. Terus selesai ngobrol tinggal jelasin ke tim si user ngomong apa. Tapi di balik itu, riset UX sebenarnya memerlukan beberapa kemampuan teknis. Misalnya bagaimana cara mendesain riset, menentukan sample, merekrut partisipan, menjadi moderator, dan mensintesis data.

Sebagian besar teknik-tenik yang digunakan sebenernya diturunkan dari riset di dunia akademis. Buat yang pernah skripsian pasti tau betapa kompleksnya teori-teori riset yang ada.

Kenapa riset UX terdengar ribet? Karena hasil riset yang buruk bisa mengarahkan produk ke keputusan yang salah. Membawa ke kondisi yang lebih buruk dibanding nggak ada riset sama sekali.

2. “Kerjanya cuma usability testing aja, kan?”

Riset UX memang umumnya diasosiasikan dengan usability testing. Walaupun sebenarnya usability testing hanya satu dari sekian banyak metode riset UX.

Memilih metode riset UX bergantung pada pertanyaan riset yang ingin di jawab. Misalnya, usability testing bisa menjawab pertanyaan “Apakah user bisa menggunakan produk?”, tetapi nggak bisa menjawab pertanyaan “Apakah user mau menggunakan produk?”. Untuk pertanyaan kedua mungkin kita perlu melakukan concept testing.

Riset UX juga nggak melulu bergelut di area kualitatif. Misalnya, kalau pertanyaan yang ingin dijawab adalah “Bagaimana akhir pekan mempengaruhi jumlah user membeli barang?”, kita mungkin perlu menggunakan SQL untuk mengambil data dan mengolahnya menggunakan teknik statistik tertentu.

Di beberapa kasus, riset UX nggak mengevaluasi produk atau desain yang sedang dikerjakan, tetapi mengeksplorasi opportunity yang mungkin ada. Misalnya untuk menggali lebih banyak apa saja kebutuhan user yang belum terpenuhi.

3. “Nggak usah diriset deh, bikin lama aja.”

Orang yang belum familiar sama riset UX biasanya punya pemikiran, “Buat apa diriset segala desainnya kalau bisa dirilis lebih cepet?” atau “Kayaknya nggak perlu diriset soalnya desainernya kan jago.”

Dalam konteks riset evaluatif (menguji konsep atau desain), fungsi riset bisa digambarkan seperti QA (quality assurance). Tanpa proses QA, sebuah software bisa rilis lebih cepat. Tetapi, bahkan dengan software engineer yang jago sekalipun, masih ada risiko bug yang harus diperbaiki.

Sama halnya dengan riset UX. Tanpa usability testing, walau dengan desainer yang jago, masih ada risiko “bug” usability dalam desain.

4. “Dia kan punya gelar master, pasti jago di riset UX.”

Sebagai orang yang dulu pengen banget S2, gue biasa menganggap kalau orang yang punya gelar master apalagi PhD (terutama di HCI), pasti jago riset UX. Sampai gue berkesempatan ikut nge-interview beberapa kandidat di perusahaan gue sekarang.

Gue sempet bingung karena beberapa kali kita melewatkan kandidat yang punya gelar master atau PhD yang berasal dari universitas yang gue mungkin nggak bakal bisa masuk. Lalu manager gue menjelaskan ke gue kalau riset di akademis dan riset di startup itu berbeda.

Di akademis kita nggak harus paham sisi bisnis dan kompetisi produk, juga nggak harus membangun relasi dan berkolaborasi dengan PM, desainer, atau engineer. Selain itu, pada dasarnya nggak semua orang cocok sama kultur perusahaan yang berbeda-beda.

Secara garis besar, dalam riset UX, punya gelar bukan berarti bisa bekerja dengan baik di industri. Karena peran UX researcher sebenarnya bukan hanya meriset, tetapi juga ikut serta dalam mengembangkan strategi dan desain produk. Ada banyak soft skill dan ilmu lain yang nggak berhubungan dengan riset yang terlibat.

Bagaimana cara mempelajarinya? Cara paling baik adalah dengan mulai menjadi praktisi.