“Bani lagi di mana, udah makan dan shalat belum?”

Sumber gambar: Kompasiana.com

Sampai bulan Maret lalu, gue magang di sebuah perusahaan IT di Plaza Indonesia (PI). Buat ke kantor gue naik kereta dari kampus (Depok) atau Bogor dan turun di stasiun Sudirman, terus lanjut naik kopaja. Begitu juga pulangnya. Gue nyebrang dari PI, naik kopaja, terus lanjut naik kereta. Gue bisa magang sambil kuliah karena gue diperbolehkan buat kerja remote, ke kantor kalau ada meeting atau laporan progres aja.

Tanggal 28 Maret, jam dua belas siang, Gue jalan agak cepet keluar dari PI. Gue baru selesai laporan progres dan jam satu nanti ada kelas yang jatah absennya udah abis alias kalau-­gue­-bolos-­lagi­-gue­-nggak-­bisa-­uas. Di saat naik tangga penyeberangan, gue merasa ada yang panggil gue. Gue menoleh ke kanan, dan di sana ada seorang nenek­-nenek, usianya sekitar 70­-an. Tingginya sekitar sedada gue dan badannya bungkuk dengan pakaiannya yang lusuh.

“Nak, nak”

“Eh iya, Bu. Ada apa, ya?”

“Kamu kerja di sini?”, kata nenek itu sambil nunjuk gedung PI, mungkin dia berkesimpulan begitu karena gue pakai kemeja dan belum lepasin badge.

Gue agak bingung, di PI kan perusahaannya banyak, pikir gue, “Iya, Bu. Kenapa, ya?”

“Kamu kenal Tesma Turmeidiardi, tidak? Dia anak saya”

“Wah, saya nggak kenal, Bu. Anaknya kerja di mana ya, Bu?”

“Dia kerja di Hotel Hyatt jadi tukang masak.”

“Oh gitu. Kebetulan saya nggak kerja di sana Bu jadi saya nggak tahu. Ada nomor hape-nya Bu nanti saya coba telepon.”

“Nenek nggak punya”. Lalu, beliau menggulung lengan kiri pakaiannya dan menunjukannya ke gue. Ada tulisan ‘Tommy’. “Kalau Tommy kamu kenal, nak? Dia temannya, kerja di sini juga”. Rupanya beliau berusaha mengingat nama teman anaknya itu sampai ditulis di lengannya.

“Wah, saya nggak kenal juga, Nek.”, gue pun jadi manggil nenek karena beliau manggil dirinya nenek.

Percakapan di atas terkesan lancar padahal sebenarnya dengan gaya ucapan khas orang tua si Nenek seringkali bilang “Apa?” sambil mendekatkan telinganya ke arah gue dan gue mengulang perkataan gue. Pendengaran si Nenek sepertinya kurang baik.

Sampai detik itu gue tetap mencoba berpikir positif. Tapi gue juga memikirkan berbagai kemungkinan lain, seperti misalnya si Nenek sebenernya kurang sehat pikirannya atau mau menipu. Gue tau mungkin berlebihan, tapi ini Jakarta, bung. Si Nenek terus melanjutkan percakapan.

“Nenek pernah ke sini tujuh tahun yang lalu, itu terakhir kali Nenek ketemu anak Nenek. Nenek tinggal di Lampung dan ke sini mau ketemu dia.” Continue reading “Bani lagi di mana, udah makan dan shalat belum?”

7 Kelakuan Bodoh yang Nggak Gue Sesali Selama Kuliah

Nggak kerasa udah empat tahun gue kuliah di UI. Banyak banget pengalaman dan pelajaran yang gue dapet baik di kampus maupun di luar itu. Post ini dedikasikan untuk gue yang nggak mau melupakan bagaimana diri gue di saat kuliah dan teman-teman mahasiswa yang mau kehidupan kuliahnya lebih dari sekedar ngampus. Enjoy!

1. Pura-pura berani

Gambar: menjelaskan program Google Student Ambassador di kantor Google Indonesia

Kalau pas kalian SMP kalian tau anak yang di kelas sukanya sendirian nggak ada temen, itu gue. Masa-masa SMP resmi jadi masa-masa tersuram gue. Gue hampir nggak punya temen, pulang sekolah langsung pulang terus main game, pokoknya amat tidak bermanfaat deh. Pas SMP gue juga pernah nge-hack beberapa akun Friendster temen-temen gue. Nggak penting banget, kan.

Masuk SMA, gue sadar ada yang harus gue ubah dari diri gue. Dengan kemampuan bersosialisasi gue yang amat terbatas, gue mulai coba nggak langsung pulang selesai kelas, gue coba masuk dan ambil jabatan di organisasi, gue coba ikut kepanitiaan. Hal-hal tersebut gue lakukan dengan penuh perjuangan, terutama secara mental. Dan gue lumayan suka dengan hasilnya. Kehidupan SMA gue jauh lebih baik dari SMP.

Dari situ gue sadar satu hal: gue penakut. Takut orang lain nggak suka sama gue, takut gagal kalau buat rencana, takut ditolak kalau daftar organisasi, dan takut-takut yang sebenarnya cuma asumsi gue doang. Gue terlalu takut buat keluar dari zona nyaman gue. Gue memutuskan buat mengubah itu waktu masuk kuliah.

Di kuliah, gue termasuk mahasiswa yang sering ikut berbagai kegiatan di luar kuliah. Gue ikut kepanitiaan, kompetisi, conference, dan sebagainya. Gue nggak mau jadi mahasiswa yang melewatkan berbagai kesempatan cuma karena gue takut buat ikutan. Apakah gue jadi berani? Nggak, gue tetep takut, gue cuma pura-pura berani.

Gue pura-pura berani buat mulai kenalan sama temen-temen seangkatan gue pas awal kuliah, gue pura-pura berani buat jadi wakil ketua acara terbesar fakultas gue yang budgetnya ratusan juta, gue pura-pura berani buat ikuta lomba business case walau gue nggak punya dasar ilmu manajemen, dan kepura-puraan lainnya. Apakah gue berhasil dengan itu? Kadang ya, kadang nggak. Tapi yang pasti, gue nggak menyesali diri karena gue nggak melewatkan kesempatan itu.

Berpura-puralah berani, cuma diri lu yang tau kalau itu pura-pura

Continue reading 7 Kelakuan Bodoh yang Nggak Gue Sesali Selama Kuliah

Teori Matematika untuk Cinta

Sumber gambar: blog.ted.com

Bukan, ini bukan tulisan tentang kisah percintaan gue ataupun kisah perjuangan gue buat lulus kuliah matematika dasar di kampus.

Salah satu temen gue pernah kasih tau gue sebuah video TED unik berjudul “The Mathematics of Love” yang disampaikan oleh Hannah Fry (bisa ditonton di sini). Di dalam video ini diceritakan bagaimana matematika sebenarnya bisa membantu kita mendapatkan informasi tentang kehidupan percintaan kita, termasuk mendapatkan si dia. Andai saja banyak pelajar di Indonesia yang serius belajar matematika di sekolah, mungkin jumlah jomblo bisa berkurang secara signifikan.

Ternyata, mungkin karena banyak orang yang menilai presentasinya unik (atau emang depresi pengen dapet pasangan), banyak yang tertarik dan Hannah menerbitkan buku berjudul sama yang isinya lebih mendetail. Waktu iseng-iseng cari di Google Play, gue nemu buku ini dan, didukung oleh pulsa bulanan yang masih banyak dan sayang kalau nggak dipake, gue beli. Gue tertarik buat baca karena selain belum pernah dan pengen coba baca buku terbitan TED, review sama ratingnya lumayan tinggi.

Jadi, di tulisan ini gue mau berbagi beberapa hal menarik yang gue dapat setelah baca buku ini.

Kita bisa mengkalkulasi kemungkinan kita dalam menemukan pasangan

Sumber gambar: thejournal.ie

Kalau ada orang yang menghibur temennya yang baru ditolak atau putus dengan bilang “Masih banyak ikan di laut”, pasti pas SMA matematikanya diremedial.

Ini sebenernya cukup sederhana. Peter Backus, seorang matematikawan dari University of Warwick, Inggris, pada tahun 2010 menerbitkan thesis berjudul “Why I don’t Have a Girlfriend” yang, setelah menggunakan formula perhitungan Drake, menyimpulkan bahwa dari 30 juta wanita di Inggris, hanya 26 wanita yang mungkin jadi pacarnya.

Kesimpulan yang dia dapatkan bisa diturunkan berdasarkan perhitungan dan kriteria pertanyaan yang dia miliki:

  • Berapa banyak wanita yang tinggal di dekat saya? Dalam hal ini London, empat juta.
  • Berapa banyak kemungkinan yang ada di rentang umur yang pas? Jumlahnya 20 persen, atau 800.000 wanita.
  • Berapa banyak kemungkinan yang single? Jumlahnya 50 persen, atau 400.000 wanita.
  • Berapa banyak kemungkinan yang punya gelar universitas? Jumlahnya 26 persen, atau 104.000 wanita.
  • Berapa banyak kemungkinan yang menarik ? Dia mengkalkulasi ini dan mendapatkan angka lima persen, atau 5.000 wanita.
  • Berapa banyak kemungkinan yang berpikir saya menarik? Lagi, dia mengkalkulasi ini dan mendapatkan angka lima persen, atau 260 wanita.
  • Terakhir, berapa banyak yang kemungkinan bisa klop? Jumlahnya 10 persen, atau 26 wanita.

Jadi, jumlah wanita yang mungkin jadi pasangan Backus adalah 26. Sedikit? Ya. Tapi dia bisa saja punya jumlah akhir yang lebih banyak kalau dia nggak terlalu tinggi dalam menentukan kriteria.

Pelajaran yang bisa diambil: dalam cinta, lebih baik kita fleksibel dalam menentukan kriteria buat pasangan alias jangan terlalu pilih-pilih.

Tambahan informasi, Backus ini sudah menikah pada tahun 2014 lalu. Mungkin karena belajar dari thesisnya. Continue reading Teori Matematika untuk Cinta